Senin, 27 Februari 2017

My First Starbucks

Taraaaa, satu gelas hangat Vanilla Latte dari salah satu Starbucks termahal di Jakarta (menurut teman saya yang satu itu, dan katanya memang benar).


Ini adalah cerita lanjutan dari postingan sebelumnya, Jumpa Kita Pe Kawan. Setelah akhirnya meet up sama Abel di tengah-tengah jembatan penyebrangan kita berdua move ke tempat selanjutnya yaitu area SCBD (gw lupa kepanjangan dari apa).

Niat ketemuan sama Abel ya mau ngopi-ngopi. Kongkow kaya biasa untuk ngobrol dan sekedar temu kangen antara kawan lama. Acara pertama adalah nemenin Abel ketemu bapaknya. Kita nunggu bapaknya Abel di lobby untuk akhirnya masuk bareng beliau ke kantornya yang waw, andddd surprisingly, his father still remember me! 

"ini Alicia ya!" kata bapaknya Abel sambil ngulurin tangan ngajak salaman. Kalimatnya pake tanda seru loh yang digunakan untuk mengeluarkan pernyataan.

Dan langsung gw sambut uluran tangannya sambil bilang "iya Om". 

Abel dan bapaknya sedikit chit chat tentang company profile yang dibawa Abel. Hemm, tercium aroma bisnis. hehehe.. Ngobrol sebentar, kemudian bapaknya Abel ngajak makan bareng. Okay, early lunch with keluarga beralis tebal, khusus buat bapaknya Abel, kumisnya gak nahan om wkwkwkwk *peace* cas cis cus, la la la, nyam nyam nyam.. Obrolan selagi makan selesai, dan bapaknya Abel harus balik lagi ke kantornya. Then, gw sama Abel memulai inti dari segalanya..

Kita berdua menuju Starbucks, pesen camilan, minuman dan cari spot enak buat ngobrol. Teman yang sama, jalur yang beda, rasa yang beda, tetapi PASSION nya masih yang SAMA. Abel mulai buka mulut dan cerita, tapi gw interupsi untuk bilang: " Yeaay, my first cup of Starbucks!" dan dia kaya "yailah yang bener aja sih lu....." Akhirnya gw celebrated that moment with captured the cup yang fotonya bisa dilihat di bagian atas.

Actually it's not only about my first starbucks, but it's about the environment! Orang ini, nih si Abel ini udah bilang beberapa sama gw tentang "segelas Starbucks". Jika dilihat secara ekonomis, harga Starbucks yang (kemaren gw tau) 43K dibandingkan dengan harga kopi di warung-warung biasa yang paling mahal cma 5K emang beda jauh. Lu bisa dapat 8 gelas kopi yang emang SAMA SAMA kopi dengan harga 43K, daripada di Starbucks cuma dapat 1 gelas. Tapi poin nya bukan disitu jo, ketika lu nongkrong di warung menikmati segelas kopi 5rebuan lihat deh di kiri kanan lu. Ada siapa? Apa isi omongannya? Bagaimana lingkungannya? Dan apa PENGARUHnya terhadap diri lu? Saat di warung, kiri-kanan lu adalah mereka-mereka yang bekerja lebih keras menggunakan tenaga daripada skill khusus. Katakanlah, misalnya (maaf, tidak bermaksud menyinggung siapa pun): kang angkot, kang ojek, kang bejak, kang bangunan, kuli angkut dan lain sebagainya. Apa yang mereka omongin? Sekedar ngomongin rutinitas sehari-hari, cerita dimarahin istri, dan ngeluh karena BBM naik? Apa pengaruhnya sama lu? Ikutan ketawa karna ada yang dimarahin istri atau ikut stres karena BBM naik? (silakan jawab sendiri)

But wait! Bandingkan dengan saat-saat dimana lu menyeruput kopi seharga 43K di ruangan ber-AC seperti Starbucks. Lihat sekeliling lu! Pria-pria berdasi, berjas, wanita-wanita dengan blazer dan tas mahalnya, para eksekutif muda dan orang asing. Orang-orang yang gak lu kenal, tapi pasti uang jajannya lebih dari 50K sehari. Orang-orang yang kadang bicaranya pake bahasa Inggris bahkan pake bahasa asing yang sama sekali gak lu ngerti. Orang-orang yang otaknya digunakan untuk berpikir bagaimana mengelola proyek ratusan juta, menghasilkan beberapa M, dan orang-orang yang sedang menaiki tangga, berproses menuju sukses! Apa pengaruhnya sama lu? Bagian ini, biarkan gw yang jawab secara pribadi:

Pertemuan gw sama Abel kmarin di Starbuck recharge my energy, my passion and my dream. Suasana yang beda, di gedung yang waw, penuh dengan orang-orang intelek yang hilir-mudik sibuk menjalankan aktivitasnya. Pengaruhnya besar banget buat gw, ya BESAR. Membuat gw berpikir gw sedang ada dimana, dan apa yang akan gw lakukan untuk menjadi seperti mereka bahkan LEBIH. Pertemuan gw sama Abel kemarin membuka 



Ngegantung banget yak..
Ternyata itu adalah draft postingan gw tanggal 11/11/14. Daebak! Kelupaan yang lama banget..
In fact, saat ini gw sudah bekerja bersama/bekerja bareng si Abel di sebuah tempat, the happiest place to work, called Dekodr.,
Nanti lah kita bahas tentang Dekodr di lain kesempatan..






















Something Bigger

I need something bigger.
More spacious than only 140 characters, or some cute stickers or a square background in it to express what I feel, inside.



Pikiran, perasaan ini sudah berkecamuk sejak lama. Namun, ceritanya baru dimulai ketika gw sakit, hari ini, sejak kemarin, kemarinnya kemarin dan seterusnya. Ketika sakit, keadaan akan memaksamu untuk merebahkan diri, pasrah, dan melayangkan pikiran entah kemana. Pun, hal yang gw rasakan saat sakit. Banyak cerita, perasaan dan pemikiran yang sulit untuk diungkapkan tapi butuh untuk diutarakan. Mencari simpati dengan bikin status di media sosial sudah bukan masanya. Saat itulah gw berpikir bahwa gw butuh something bigger, gw butuh sebuah media untuk mengekspresikan semua yang gw rasakan dan pikirkan. Teringatlah gw dengan blog ini. Blog yang gw buat pada zaman duluuuuu banget, sekitar tahun 2010 dalam rangka persiapan kuliah (karena pada saat itu akan ada tugas kuliah yang dikerjakan via blog). Kalau diibaratkan pajangan, blog ini pasti udah bedebu banget karena nggak pernah gw tengok, gw sapa, apalagi gw “bersihin”. But now, gw akan coba untuk membiarkan jemari gw menari dengan lincahnya di atas keyboard dan mengungkapkan apa yang terlintas di pikiran gw.